ingin beli bukunya ???
Resensi / deskripsi :
Jika sekadar membaca sinopsisnya yang
hanya sepuluh kata, kita mungkin akan mengira bahwa novel Hujan karya Tere Liye
ini adalah karya fiksi dengan latar kehidupan sehari-hari. Saya pun awalnya
mengira bahwa novel ini akan klise-klise saja dengan mengangkat kisah yang
sudah jamak diceritakan: persahabatan dua orang lelaki-perempuan yang merumit
akibat keterlibatan perasaan-perasaan. Saya juga secara spontan mengasosiasikan
Hujan dengan novel pendahulunya, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.
Tetapi tidak. Novel Hujan secara
mengejutkan mengambil latar dunia di tahun 2050-an, dengan segala kemajuan
teknologi dan gentingnya isu-isu mengenai lingkungan.
Cerita dimulai dari pertemuan Lail dan
Elijah di sebuah ruangan terapi—ruang operasi saraf otak, lebih tepatnya—yang
dideskripsikan memiliki atmosfer nan futuristik. Lail, dengan sesak dan tangis
yang tertahan, menemui Elijah sang fasiltator terapi untuk satu tujuan: ingin
menghapus ingatannya tentang hujan.
Mengapa?
Karena hujan selalu turun di masa-masa
tergelap Lail dalam beberapa tahun terakhir—sampai ia sendiri tidak tahan.
Padahal sebelumnya, hujan jamak turun pada saat-saat tercerahnya.
Bagaimana bisa?
Dan kita dibawa mundur kepada kejadian
delapan tahun silam, tepatnya ke tanggal 21 Mei 2042, saat bayi kesepuluh
miliar baru lahir ke dunia. Saat itu, ketika dunia dihadapkan pada isu
pertambahan penduduk yang semakin mengeksponensial dan seakan tak bisa
dibendung, ketika dunia sedang mencari jalan keluar atas luar biasa banyaknya
orang-orang di bumi dan krisis yang menyertainya, tiba-tiba alam menyediakan
solusi tersendiri.
Siklus itu datang, sebuah gunung purba
meletus dahsyat dengan suara letusan terdengar hingga 10.000 kilometer.
Menyemburkan material vulkanik setinggi 80 kilometer dan menghancurkan apa saja
dalam radius ribuan kilometer.
Letusan yang lebih hebat dibandingkan
letusan Gunung Tambora dan Gunung Toba puluhan ribu tahun silam itu secara
efektif dan signifikan berhasil mengurangi jumlah penduduk dunia hanya dalam
hitungan menit.
Lail yang saat itu berusia tiga belas
tahun, dalam hari yang tak terlupakan oleh dunia, mendadak sebatang kara dan
kehilangan orang tuanya. Tetapi, takdir membawanya kepada Esok, bocah lelaki
berusia lima belas tahun yang menyelamatkannya dari reruntuhan tangga kereta
api bawah tanah. Bocah laki-laki spesial yang kelak akan menjadi sangat penting
dalam hidupnya.
Waktu berjalan cepat. Di bawah
stratosfer yang rusak, di antara semrawutnya KTT Perubahan Iklim Dunia, Lail
tumbuh dewasa sambil menerka-nerka kemana ujung kisahnya bermuara.
Sejak saat itulah, memori Lail tentang
hujan, tentang kebahagiaan, tentang perpisahan, dan juga segala unsur tentang
kesedihan, berkelindan menjadi benang kusut yang membingungkan dan membuat
sesak. Sampai-sampai, Lail dengan nekatnya datang ke Pusat Terapi Saraf.
Berharap paramedis dapat menghapus ingatannya tentang hujan—tentang Esok.
Ya, terutama ingatannya tentang Esok.
***
ingin beli bukunya ???